Tsaqofah

10 Syarat Dakwah dalam Al Qur’an

Foto: Wirawan Dwi P

Dakwah atau menyiarkan ajaran Islam merupakan tugas yang tidak mudah. Harus ada syarat-syarat  yang dipenuhi dan tentu harus sesuai dengan Al Qur’an. Berikut ini beberapa syarat dakwah dalam Al Qur’an.

Pertama, menyebarkan hikmah dan nasehat yang baik. Allah berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.k” (An-nahl 125)

 Kedua, menyeru seperti yang diserukan Rasulullah dalam ayat, ”Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, mengajak kepada Allah dengan yakin.” (Yusuf 108)

 Ketiga, mengajak hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain (madzhab, partai, golongan, dll.)

 Keempat, harus memiliki Bashirah dalam berdakwah. Allah berfirman, “Mengajak kepada Allah dengan yakin” (Yusuf 108)

 Kelima, tidak boleh menyampaikan yang tidak ia ketahui. Tertulis dalam firman Allah, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isra’ 36)

 Keenam, harus dengan lemah lembut. Allah berfirman, “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (Ali Imran 159)

Lalu dalam firmannya yang lain, “Pergilah kalian berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”(Thaha 43-44)

Ketujuh, dilarang berdebat, kecuali dengan cara yang terbaik.  “Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik.” (An-Nahl 125)

Kedelapan, ketika berdakwah harus sampai pada kesimpulan yang dia inginkan. Jangan sampai dialihkan oleh pertanyaan atau sanggahan pendengar hingga dakwahnya keluar dari tujuan utamanya.

Seperti kisah dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun. Walaupun Fir’aun hendak mengalihkan dakwah beliau dengan berbagai pertanyaan, tapi Nabi Musa tetap fokus dengan tujuan utamanya. 

Fir‘aun bertanya, “Siapa Tuhan seluruh alam itu?”

Dia (Musa) menjawab, “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhan-mu), jika kamu mempercayai-Nya.”

Dia (Fir‘aun) berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengar (apa yang dikatakannya)?”

Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhan-mu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”

Dia (Fir‘aun) berkata, “Sungguh, Rasulmu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila.”

Dia (Musa) berkata, “(Dia-lah) Tuhan (yang Menguasai) timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya; jika kamu mengerti.”(Asy-Syuara’ 23-28)

Kesembilan, harus memiliki kesabaran. Allah berfirman, “Saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”(Al-Ashr 3)

Kesepuluh, tidak boleh melanggar kata-katanya sendiri. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As-Shaff 2-3).(Muf)

 

 

Join The Discussion