Berdusta dalam Bercanda

0
6

 

Bercanda bagus untuk melepaskan rasa penat dan lelah. Namun bagaimana dengan canda yang mengandung unsur kebohongan di dalamnya? Apalagi di era sekarang, canda yang demikian sudah lumrah terjadi. Bagaimana sebenarnya hukum candaan yang berisi kebohongan?

Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.” [HR Abu Dawud no. 4990. Hasan]

Hadits di atas menjelaskan bahwa candaan yang mengandung unsur kebohongan adalah dilarang. Dan berbohong adalah kebiasaan orang kafir. Sebagaimana Allah berfirman, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (QS. An-Nahl [16]: 105).

“Ibnu Ma’sud berkata, ‘Berbohong itu tidak layak baik dalam keadaan serius maupun bercanda’. Apabila dalam candaan menimbulkan permusuhan di antara manusia dan menimbulkan madharat dalam agama, maka lebih diharamkan lagi. Pelakunya berhak mendapatkan hukuman yang bisa membuat jera.” (Majmu’ Al-Fatawa 32/256)

Menurut Ibn Katsir di dalam tafsirnya, manusia jenis ini (yang suka melakukan kebohongan) tidak akan mendapatkan petunjuk menuju iman kepada tanda-tanda kekuasaan-Nya serta apa yang di bawa oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu alayhi wasallam. Dan kelak di akhirat, manusia jenis ini akan mendapat siksaan yang menyedihkan lagi menyakitkan.

Rasulullah pun pernah bersenda gurau, namun sama sekali tidak mengandung unsur kebohongan di dalamnya. Sebagaimana hadits berikut,“Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR Ahmad, sanad shahih)

Dengan begitu, canda yang dibolehkan adalah canda yang dilakukan dengan cara yang benar. Yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarkan suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh gairah baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here