Kajian

Dialog antara Penduduk Surga dan Neraka (Tafsir Qur’an Surat Ash-Shaffat: 51-60)  

 

Terdapat dialog antara penghuni surga dan neraka yang diceritakan dalam Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 51-60. Dalam ayat ini, kita dapat mengambil pembelajaran yang luar biasa mengenai kehidupan akhirat. Karena sesungguhnya Al-Qur’an berisi pembelajaran, petunjuk, larangan, dan peringatan bagi orang-orang yang mau berpikir. Berikut tafsir Surat Ash-Shaffat yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman.” (Ash-Shaffat: 51). Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘teman’ ialah setan. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa yang dimaksud adalah teman yang musyrik, dia menjadi teman orang mukmin ketika di dunianya.

Karena itulah disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman, yang berkata, ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)’?” (Ash-Shaffat: 51-52)

Yakni apakah engkau percaya dengan adanya hari berbangkit dan hari penghisaban serta hari pembalasan. Dia mengatakannya dengan nada heran, tidak percaya, dan menganggap mustahil, serta ingkar terhadapnya.

Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan? (Ash-Shaffat: 53)

Mujahid dan As-Saddi mengatakan, “Benar-benar akan dihisab.” Ibnu Abbas r.a. dan Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi mengatakan, “Benar-benar akan mendapat pembalasan dari amal perbuatan kita.” Kedua makna tersebut sahih.

Berkata pulalah ia, “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?” (Ash-Shaffat: 54). Yakni menengoknya. Kalimat ini dikatakan oleh orang mukmin kepada teman-temannya sesama penghuni surga. Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. (Ash-Shaffat: 54)

Ia melihat secara langsung meskipun surga berada di tempat yang tinggi dan neraka berada di tempat yang rendah lagi dangkal. Tetapi mereka (penghuni surga) dapat melihatnya tanpa bantuan optik, karena penglihatan penghuni surga amatlah bening dan jelas. Telah diceritakan pula kepada kami bahwa Ka’bul Ahbar pernah mengatakan, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat jendela pengintai. Apabila seorang ahli surga hendak melihat keadaan musuhnya di neraka, maka ia melongokkan pandangannya melalui jendela itu ke arah neraka. Karena itu, makin bertambahlah rasa syukurnya.”

Orang mukmin berkata kepada orang kafir (yang ada di dalam neraka), “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakan diriku sekiranya aku menuruti kehendakmu.” (Ash-Shaffat:  56). Kemudian disambung dengan ayat berikutnya, “Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka)” (Ash-Shaffat: 57). Yakni sekiranya bukan karena karunia dari Allah, tentulah aku menjadi orang yang senasib denganmu berada di tengah-tengah neraka Jahim, tempat kamu berada dan diseret bersamamu ke dalam azab neraka. Tetapi berkat karunia dan rahmat-Nya kepadaku, maka Dia memberiku petunjuk kepada iman dan membimbingku ke jalan mengesakan Dia.

Pada ayat berikutnya, yaitu ayat 58-61, “Maka apakah kita tidak akan mati?, melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)?” Allah SWT menjelaskan pernyataan penghuni surga itu bahwa mereka sangat puas terhadap nikmat dan kebahagiaan mereka di dalam surga. Mereka merasakan keadaan hidup dalam surga, tidak akan mengalami kematian lagi dan tidak pula akan menderita azab. Satu-satunya kematian yang mereka alami ialah kematian pertama, yaitu kematian yang meninggalkan kehidupan dunia. Berbeda halnya dengan orang-orang kafir di dalam neraka. Meskipun mereka sudah mengalami kematian pertama, namun mereka masih menginginkan kematian kedua kalinya untuk mengakhiri penderitaan yang bersangkutan di neraka Jahanam. 

Adapun penghuni surga tidak pernah meragukan keabadian hidup di surga, karena keraguan itu menimbulkan kegelisahan dan kegelisahan adalah penderitaan. Penghuni surga menyatakan lagi dengan penuh kesungguhan bahwa segala kenikmatan yang mereka peroleh, kelezatan makanan dan minuman dan segala kepuasan rohaniah di dalam surga itu adalah kemenangan yang besar. Dan untuk mencapai kemenangan yang besar menurut mereka, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh penuh keikhlasan dan pengabdian kepada Allah Subhanahu wa ta’ala di dunia.

Ini merupakan kata-kata dari orang mukmin yang merasa kagum dengan pemberian Allah kepada dirinya berupa kehidupan yang kekal di dalam surga dan bertempat di tempat yang terhormat tanpa mati dan tanpa azab. Karena itu, disebutkan oleh firman Allah Subhanahu wa ta’ala. selanjutnya: Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar (Ash-Shaffat: 60).

Ini adalah motivasi sekaligus peringatan untuk kita, bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan di dunia akan mendapat balasan di akhirat se-adil-adilnya. Bagi orang yang beriman, mereka akan kekal di dalam Surga. Oleh sebab itu, mari kita berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, bekal yang kita kumpulkan untuk akhirat haruslah dipersiapkan secara baik dan maksimal, yang akan menentukan nasib kita di akhirat kelak. Wallahu a’lam. (Din)

Join The Discussion