Tazkiyah

Memahami Taqlid dalam Islam

Belajar soal agama memang bukanlah persoalan yang mudah. Metode taqlid masih menjadi perdebatan dalam belajar soal agama. Lalu, apakah taqlid itu ?

Taqlid secara bahasa berasal dari kata qiladah yang berarti kalung yang disematkan. Sedangkan secara istilah seperti yang dikemukakan oleh Dr. Said Romadlon Al Buthi dalam buku Allah Madzhabiyyah Akhthoru Bid’atin Tuhaddidus Syari’atil Islamiyyah adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengerti dalil yang menunjukkan kebenaran pendapat tersebut.

Didasari dari pendapat tersebut, taqlid bisa menjadi metode belajar untuk sebagian orang awam namun dengan tetap memperhatikan pendapat yang ia ikuti. Dalil dari taqlid ini merujuk pada surat An Nahl: 43 yang berbunyi, “Maka bertanyalah kamu terhadap orang-orang yang ahli ilmu jika kamu tidak mengerti.”

Menurut ustadz Mahfudz, Sekretaris LBM (Lembaga Bahtsul Masail) NU Lampung, taqlid adalah hal yang wajar dilakukan karena tidak setiap orang mempunyai kesempatan yang sama dan kemampuan dalam mempelajari ilmu agama secara mendalam. Taqlid tidak terbatas pada orang-orang awam saja, bahkan orang-orang alim yang mengetahui dalilpun juga dianjurkan untuk melakukannya. Dengan syarat para alim tersebut belum sampai pada batas mujtahid.

Sementara itu, taqlid memiliki beberapa syarat agar tidak menjadi dilarang. Salah satunya adalah ketika seorang umat ber-taqlid buta, menerima pendapat mentah-mentah tanpa mengerti dan berusaha mengetahui dalilnya. Karenanya, taqlid di satu sisi diperbolehkan sedangkan sisi lainnya tidak diperbolehkan. Hal ini dikarenakan beberapa alasan berikut :

  1. Allah ta’ala memerintahkan para hambaNya untuk memikirkan (tafakkur) dan merenungi (tadabbur) ayat-ayatNya. Seperti tercantum dalam Al Quran surat Ali Imran: 190-191 yang berbunyi, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ’Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’”

 

  1. Allah ta’ala mencela taqlid dan kaum musyrikin jahiliyah yang mengekor perbuatan nenek moyang mereka tanpa didasari ilmu. Allah ta’ala berfirman dalam surat Az Zukhruf: 22 yang berbunyi, “Mereka berkata : ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk (dengan) mengikuti jejak mereka.’”

 

  1. Jika taqlid hanya menghasilkan zhan (prasangka) semata. Karena, Allah melarang untuk mengikuti prasangka. Dimana, Allah telah berfirman dalam Al Quran surat Al An’am: 166 yang bunyinya, “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

Karenanya, taqlid jika dilakukan dengan benar dan tepat maka tidak akan menjadi larangan malah akan menjadi keberuntungan. Namun, jika taqlid semata-mata dilakukan tanpa diikuti dengan usaha untuk mencari kebenaran dalilnya maka ini menjadi larangan. Karena, belum tentu taqlid tersebut benar adanya. (ipw)

Join The Discussion