Belajar dari Kesederhanaan Rasulullah

0
46

Logisnya, hidup sederhana dapat dilakukan oleh siapapun, baik oleh orang yang lemah secara ekonomi, ataupun orang yang hidup serba berkecukupan.

Namun untuk hidup mewah, banyak orang bersusah payah mencari uang dari pagi hingga malam, bahkan hingga lupa kewajibannya untuk beribadah kepada Allah, hanya untuk memenuhi hidup yang mewah. Padahal, apabila kita meneladani Rasulullah, di tengah kemampuan finansialnya, ia justru memilih hidup sederhana.

Ada sebuah kalimat yang tak asing terdengar, “Semakin dalam pemahaman agamanya, semakin sederhana seorang wanita berpenampilan”. Ya, sederhana memang sebuah ajaran Islam. Sebagaimana Rasulullah yang memilih hidup sederhana meski beliau ialah seorang pemimpin besar. Bagaimana kesederhanaan hidup Rasulullah?

Dilansir dari laman republika online, dalam sebuah riwayat, Allah pernah menawarkan emas sebanyak butiran pasir di gurun kota Makkah kepada Rasulullah. Nabi Muhammad bisa  saja merengkuh segala kesenangan dunia itu; harta, dan kekayaan materi. Namun, Rasulullah adalah sosok teladan yang mulia.

Ia tak pernah silau dengan  kenikmatan duniawi. Nabi lebih memilih kehidupan yang sederhana. Hal itu tecermin dari jawaban Rasulullah atas buiran emas yang ditawarkan Sang Khalik kepadanya. ”Tidak, ya Tuhanku, lebih baik aku lapar sehari, dan kenyang sehari. Bila kenyang, aku bersyukur memuji dan memuja-Mu, dan jika lapar aku akan meratap berdoa kepada-Mu.”

Melihat Kamar Rasulullah

Sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim menggambarkan secara jelas sifat zuhud serta kesederhanaan Nabi. Pada suatu hari, sahabat Umar bin Khatthab menemui Rasulullah di kamarnya.

Di sana, Umar melihat Rasul sedang berbaring di atas sebuah tikar kasar, dan hanya berselimutkan kain sarung. Kemudian, terlihatlah guratan tikar yang membekas di tubuh Rasulullah. Umar pun melayangkan pandang ke sekeliling kamar.

Dilihatnya segenggam gandum seberat kira-kira satu sha’, daun penyamak kulit, dan sehelai kulit binatang. Menyaksikan kesederhanaan Rasulullah,  Umar pun tak kuasa menahan air matanya. ”Apa yang membuatmu menangis, ya putra Khattab?” ujar Rasulullah bertanya kepada Umar.

Umar pun menjawab, ”Bagaimana aku tak menangis, ya Rasul, di pinggangmu tampak bekas guratan tikar, dan di kamar ini aku tidak melihat apa-apa, selain yang telah aku lihat. Sementara raja Romawi dan Persia bergelimang buah-buahan dan harta, sedang engkau utusan Allah .”

Rasulullah pun bersabda, ”Wahai putra Khattab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka?” 

Gaya hidup sederhana adalah pilihan Rasulullah, bukan karena beliau tidak memilki kemampuan untuk bergaya hidup mewa. Tapi karena beliau lebih senang dengan kesederhanaan. Andai Rasulullah mau, tidak sulit bagi beliau untuk bergaya hidup layaknya seorang Raja dengan segala kemewahan karena saat itu Beliau sudah menjadi seorang pemimpin yang besar. Semoga kita dapat senantiasa mencontoh  perilaku baik Rasulullah semasa hidupnya. Aaamiin. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here