Meraih Kemerdekaan Hakiki

0
51

Sahabat Alquran, sering kita mendengar kata “merdeka”. Merdeka artinya bebas, baik bebas dari penjajahan, kebodohan, kemiskinan,termasuk bebas dari gangguan dari orang di sekitar kita. Kebebasan itu, sangat kita rasakan setelah reformasi di negeri kita pada 1998 lalu. Namun benarkah kebebasan yang kita rasakan ini bisa membuat hidup kita semakin merdeka? Benarkah kebebasan ini bertujuan untuk kebahagiaan atau menjauhkan kehancuran dan gangguan orang lain?

Ada yang mengartikan kemerdekaan dengan melakukan apapun yang mereka inginkan walaupun itu sebenarnya akan mengganggu yang lainya. Itu mereka lakukan dengan mudah mengatakan, “Ini hak asasi saya, apa urusan Anda?” Padahal terkait dengan sesuatu yang tanpa aturan, sebenarnya akan mempersulit kemerdekaan diri seseorang. Misal, di perempatan jalan yang ada  lampu traffic light, lampu sudah menyala merah sehingga seharusnya berhenti, namun dengan alasan hak asasi, mereka bilang, “Terserah saya, mau  berhenti atau jalan.” Kalau ini dibiarkan, maka bisa ada dua kemungkinan;jalanan jadi macet atau bisa jadi akan tertabrak kendaraan lain dari arah bersimpangan. Belum dampak yang lain dari kecelakaan ini,timbul kemacetan yang akhirnya membuat pengendara lain tidak bebas dan merdeka untuk melaksanakan aktivitas yang harus segera mereka selesaikan. Jika demikian, bukankah akibatnya akan berdampak pada kehilangan hak asasi orang lain?

Apa itu kemerdekaan?

Sahabat Alquran, Islam mendefinisikan kemerdekaan itu sebagaimana hadits Rasulullah yang diuraikan dalamkisahberikut, “Perumpamaan orang yang berpegang teguh kepada hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya (riwayat lain menyebutkan: dan yang menghancurkannya sertaorang yang mengelabuinya) adalah ibarat sekelompok awak kapal (yang berlayar) dan kemudian memperebutkan tempat duduk. Ada yang mendapatkan bagian di atas dan ada yang mendapatkan bagian di bawah hingga apabila ingin mengambil air akan melewati mereka yang ada di atas (sehingga mengganggu mereka). (Riwayat lain menyebutkan, “Orang –orang yang ada di bawah naik untuk mengambil air dan membasahi mereka yang ada di atas. Mereka yang ada di atas berkata, “Kami tidak akan membiarkan kalian naik karena akan mengganggu yang ada di atas.” Mereka yang berada di bawah menjawab, “Kalau saja kami diperbolehkan membuat lubang di tempat kami, niscaya kami tidak akan mengganggu.” (Riwayat lain menyebutkan, “Kami tidak akan melewati kawan-kawan yang ada di atas, dan merugikan mereka”). Lalu salah seorang di antara mereka yang ada di bawah mengambil kapak dan membobol bagian bawah kapal. Mereka yang adadi atas kemudian mendatanginya dan berkata, “Apa yang kamu lakukan?” Orang yang membobol tersebut menjawab, “Kalian merasa terganggu oleh saya. Padahal saya harus mendapatkan air). Jika mereka yang ada di atas membiarkan apa yang hendak dilakukan oleh mereka yang ada di bawah, maka semua akan hancur. Tetapi jika mereka mencegah perbuatan mereka yang ada di bawah, maka akan menyelamatkan semuanya.” HR. Bukhari (Juz II.2/111.164)

Sahabat Alquran, dari dua inti kisah di atas, yang satu mengartikan kemerdekaan tanpa aturan atau sebebas-bebasnya, yang kedua mengartikan kebebasan adalah komitmen menegakkan aturan yang telah disepakati. Semoga di hari ulang tahun kemerdekaan negara kita tercinta Indonesia yang ke-72 ini, para politisi bersama rakyatnya bersatu padu mengawal hukum tanpa pandang bulu. Sehingga tidak ada hukum jalanan yang akhir-akhir ini terjadi. Sehingga negeri gemah ripah lohjinawi segera terwujud. Allahu Akbar.  merdeka!. Wallahu a’lam bishawab.{}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here